Senin, 07 Februari 2011

kisahq di penghujung musim hujan

Dalam keheningan malam, ku tatap daun-daun yang bergoyang oleh angin di bawah sinar lampu kuning di teras rumah. Ku banyangkan dia ada di depanku dengan senyumnya yang indah, senyum yang mampu membuatku terbang, senyum yang bisa membuatku merasa waktu terhenti. Tapi, ku tau semua yang ku hayalkan tak kan mungkin terjadi, karena Dhika tak mungkin kembali padaku. Hingga sang malam menjadi lebih sunyi, sepi, dan ku pikir tinggalah aku sendiri disini. Ku tatap jalan itu, aku tersenyum kecil ku lihat hewan-hewan kecil di bawah lampu neon itu sungguh lucu dan akuputuskan kembali ke kamar.

*******
Aku terbangun, ku ambil HP dan kulihat jam di situ,
“setengah lima” gumamku
Ingin rasanya mata ini terpejam kembali, tapi ku pikir sudah terlalu siang untuk kembali memejamkan mata ini. Akhirnya aku bangun ku ambil handuk dan peralatan mandiku, perlahan aku berjalan menuju dapur, ku lewat meja makan lalu meneguk segelas air putih dan melanjutkan perjalananku menuju kamar mandi. Selesai mandi dan sarapan ku panggil-panggil bundaku
“Bun, Bunda,” teriakku
“iya sayang, sudah mau brangkat?” jawabnya penuh kelembutan
“iya bun, ayah mana?”
“sudah brangkat,”
“ya sudah aku brangkat dulu ya Bun, Assalamu’alaikum,”
“wa’alaikum salam, hati-hati ya,”
Bunda melambaikan tangannya dan akupun berangkat dengan sedikit berlari menuju halte bus yang selalu jadi tempat penantian kendaraan menuju sekolah. Sebenarnya, aku bisa naik motor, tapi males soalnya panas.
*******
Sesampainya di sekolah, aku di sambut dengan hangat oleh sahabatku yang selalu setia menungguku digerbang,
“hy Jesson, pagie,” sapaku
“hy Da, tumben pagian,” balasnya
“masak sih Jess,! Ke kelas yuk capek,” ajakku
“ayuk!”
Di perjalanan menuju kelas aku dan Jesson ngobrol, bercanda, dan maki-makian seperti biasanya, tapi disela-sela tawanya ku lihat ada yang berbeda, dia memandangku lain dari biasanya, senyumnya, tatapannya, membuatku merasa takut, takut kalau dia suka padaku karena slama ini aku kehilangan semua sahabat-sahabatku hanya karna perasaan cinta, tapi entah mengapa kini aku takut kehilangan Jesson karena tatapannya sama persis dengan Dhika pacarku yang telah meninggal karena kecelakaan tiga bulan silam.
“hallo ida, hallo,” kata Jesson sambil melambai-lambaikan tangannya di depan kedua mataku menyadarkanku dari lamunanku tentangnya
“iya iya Jesson,” kataku menyingkirkan tangannya
“nglamun apa sih nooonnnnn?” tanyanya
“enggak, bukan apa-apa,” jawabku
“inget dhika lagi ya?”
Tiba-tiba raut muka Jesson berubah, tak seceria tadi.
“enggak kok tuan Jesson, aku mikirin kamu,”
“mang aku kenapa da?”
“muka lo aneh,!!!” jawabku semabari berdiri dan meninggalkannya
*******
Di perjalanan pulang pikiranku tak lepas-lepasnya dari Jesson, aku takut dia suka padaku, aku takut dia mencintaiku dan persahabatan kita akan rusak seperti yang sudah-sudah.
“ttiiiittt........ttiiiitttttttt,” Hpku berdering
“Jesson, ada apa ya?” tanyaku dalam hati lalu ku buka sms itu
“da, sudah nyampek rumah belom?”
Tumben banget ni bocah.
“belom jess,”jawabku
“TTDJ each,”
“iya Jesson bawell,”
“ea udah, ntar sambung lagi,a”
“ea,”
Setiba di rumah aku kembali memikirkan dan menebak perasaan Jesson padaku, ku tatap jam dinding lekat-lekat dan perlahan ku pejamkan mata ini.
*******
Hari ini tepat satu minggu ku merasakan keanehan pada Jesson, dan semakin hari semua yang ku rasa makin kuat dan hampir ku temukan semua jawaban atas perasaanku padanya, ya perasaanku bukan perasaannya. Ternyata, bukan Jesson yang aneh tapi perasaanku yang membuatnya semakin aneh, mungkin karena selama satu minggu ini aku memikirkan keanehannya perasaanku juga terasa aneh. Di depan, guru fisika “Pak Puji” sedang menerangkan tapi, pikiranku melayang entah kemana hanya Jesson yang memenuhi isi otakku.
“Ida, sebutkan rumus momen gaya,” tanya pak puji
“ iya pak, Jesson,!” jawabku
Sontak seisi kelas teriak dan menertawaiku, aku malu, mukaku memerah ku lirik bangku Jesson, Dia tak ikut menertawaiku rupanya Diapun ikut malu atas tingkahku tatapannya kelam kearahku seolah ingin menggambarkan bahwa Dia juga memikirkanku sama sepertiku yang memikirkannya.
*******
Setelah kejadian siang itu, aku tak berani lagi dekat-dekat dengan Jesson takut ditanya-tanya soal kejadian itu, Jessonpun demikian dia tak pernah menunnguku lagi seperti biasanya, mukanya datar dan dingin seolah ingin meneriakkan sesuatu. Smapai akhirnya setelah pulang sekolah, dia menyapaku.
“Da, aku mau ngomong, plis jangan nolak,” pintanya
“Iya Jess,” jawabku pasrah
Dia menggandeng tanganku dan menariknya menuju motor mio hitam kepunyaannya.
“naik!” perintahnya
“iya Jess,”
Aku duduk di blakangnya, ini pertama klinya aku di bonceng Jesson rasanya degdegan banget, apalagi ditambah masalah yang ku buat di kelas siang itu.
“Da aku mau tanya?” katanya
“tanya apa Jess?”
“sebelumya aku minta maaf tapi, aku sudah enggak tahan sama prasaan aku slama ini, jujur aku sudah suka kamu sejak dulu sejak masih ada Dhika tapi baru sekarang aku brani ungkapin ini semua sama kamu, Da sebenernya aku suka sama kamu, mau enggak kamu jadi pacar aku?”
“berhenti Jess!” perintahku
“ maaf,”sambungku akupun langfsung pergi meninggalkannya
*******
Kejadian sore itu selalu terbanyang dalam angan-anganku, ingin rasanya aku menjawab pertanyaan Jesson tapi, tak ada keberanian sedikitpun tak ada keberanian dari diriku untuk sekedar mendekat dan berkata “ya Jesson aku mau,”. Ingin ku teriak dan menyalahkan diriku sendiri, memakinya, dan memukulnya atas semua kesalahanku tapi aku tak berdaya dan tak akan pernah berdaya.
“Da, ku pengen jawaban sekarang!” kata Jesson dari belakangku
“Tapi Jess,” belum sempat ku teruskan kata-kataku
“Enggak pake tapi Da, Aku bakal trima apapun keputusan kamu,” potong Jesson
“Ok Jess, aku akan jawab sekarang! Aku aku mau jadi pacar kamu Jess,” jawabku terbata-bata.
Jesson memelukku erat, seperti tak ingin melepaskanku, akupun membalas memeluknya.
“Da aku harap kamu cinta terakhirku,” ucap Jesson sambil mencium keningku
“Iya Jess ku juga berharap hal yang sama,”
Jesson kembali memelukku di bawah pohon mangga depan kelas ini, di tengah semilirnya angin barat pembawa musim hujan yang akan segera berakhir. Di penghujung musim hujan ini, kan ku jalani kisahku dengan Jesson. Ku berharap kisah ini tak kan berakhir di musim hujan berikutnya karena, ku yakin kisahku akan berakhir kelak ketika aku pergi dari dunia ini menyusul Dhika bersama Jesson.

0 komentar:

Posting Komentar